Abu Thalhah adalah sosok yang kaya raya, namun hatinya selalu terpaut pada kebaikan. Suatu hari, turunlah firman Allah SWT yang mengetuk pintu hati, mengubah pandangan tentang harta yang ia cintai.
Ayat ini berbicara langsung kepada fitrah manusia. Kebajikan sejati bukan sekedar memberi, tetapi memberi dari sesuatu yang paling berharga bagi diri kita. Bagi Abu Thalhah, harta yang paling ia cintai adalah kebun Bairuha’ dan udara segarnya.
Wakaf Harta yang Paling Dicintai
Segera setelah mendengar ayat tersebut, hati Abu Thalhah diliputi keinginan yang kuat untuk mencapai “kebajikan yang sempurna” itu. Ia kebetulan bertemu Rasulullah ﷺ, dengan mata penuh harap, lalu berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya harta yang paling aku cintai adalah Bairuha’. Sekarang, ia aku sedekahkan (wakafkan) di jalan Allah. Aku berharap kebaikannya di sisi Allah.”
Abu Thalhah tidak hanya memberikan kebunnya, tetapi ia menyerahkannya untuk tujuan mulia. Ia meminta Rasulullah ﷺ mengelola dan mendistribusikannya sesuai petunjuk Allah.
Rasulullah ﷺ sangat gembira mendengar pengorbanan Abu Thalhah. Beliau bersabda, “Bagus! Itu adalah harta yang menguntungkan. Itu adalah harta yang menguntungkan. Aku telah mendengar apa yang kamu katakan tentang Bairuha’. Aku berpendapat sebaiknya kamu jadikan wakaf untuk kerabatmu.”
Maka, Abu Thalhah pun mengikuti saran Nabi. Ia membagi kebun Bairuha’ kepada persaudaraan persahabatan, yaitu Hassan dan Ubay, yang juga merupakan sahabat Nabi. Wakaf Bairuha’ menjadi teladan utama dalam Islam:

Keutamaan Wakaf bagi Kesejahteraan Umat
Kisah Bairuha‘ mengajarkan kita bahwa wakaf adalah bukti ketulusan iman dan kecerdasan dalam investor akhirat. Abu Thalhah memilih untuk berpisah dengan harta terbaiknya di dunia demi janji kebaikan yang sempurna di sisi Allah. Wakaf yang ia lakukan tidak hanya mendatangkan manfaat bagi individu, tetapi juga menciptakan manfaat berkelanjutan bagi banyak orang.
Hari ini, kita mungkin tidak memiliki kebun kurma seperti Bairuha’, tetapi kesempatan untuk berwakaf dari harta yang kita cintai—baik berupa uang, tanah, atau aset produktif lainnya—tetap terbuka lebar.
Mari Terus Mengalirkan Kebaikan!
Teladani semangat Abu Thalhah! Jangan biarkan harta terbaik Anda hanya menjadi warisan duniawi yang fana. Ubahlah sebagian harta yang Anda cintai menjadi wakaf produktif yang manfaatnya terus mengalir bagi pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan umat. Dengan berwakaf, kami memastikan bahwa pahala kami tidak akan terputus, bahkan setelah kami meninggalkan dunia ini. Ambil langkah hari ini untuk mencapai “kebajikan yang sempurna” itu.